Rabu, 14 Desember 2016

Filament Berkualitas Adalah Kuncinya

CEO Polymaker, Xiaofan Luo adalah seorang lulusan pendidikan Teknik Material dari Amerika dan telah menempuh S2 (PhD) bidang Polimer. Sejak dia pulang ke China pada tahun 2008, bersama beberapa rekannya mengembangkan sebuah bahan yang bisa diaplikasikan pada perangkat medis. Saat itu Tim-nya mendapati bahwa Printer 3D seharusnya menjadi cara mudah bagi rumah sakit bisa membuat perangkat khusus yang dibutuhkan untuk pasiennya. Akhirnya mereka punya ide untuk membuat bahan medis yang kompatibel dengan Printer 3D konvensional. Tapi sayang saat itu produsen Printer 3D belum mengizinkan pemakaian filamen merk lain pada printer 3D mereka.


“That was a big limitation of the technology, To me it was a little bit ridiculous, even. Fundamentally, 3D printing is a new way of processing materials, of converting them into objects. It’s similar in that respect to injection molding or extrusion. No one could imagine buying an injection molder or extrusion machine and then being limited to only using the materials the manufacturer provides.” – Xiaofan Lou, CEO Polymaker.


Pada tahun 2012, kompetisi Printer 3D makin ramai dan para pemakai mulai mengharapkan kemampuan lebih dari filament untuk aplikasi multi platform tapi para produsen masih belum menganggap penting melihat kebutuhan ini, karena mereka masih puas dengan filamen mereka. Saat itu Luo memulai Polymaker untuk mengatasi apa yang dilihatnya sebagai celah yang mencolok di pasar Printer 3D.



“The machines are getting very good, but materials are the next big thing.” – Xiaofan Lou, CEO Polymaker.

Meskipun sekarang para pemakai printer 3D sudah bisa mengganti filamen dengan merk berbeda, Tapi jenis filamen yang beredar dipasar masih belum banyak macamnya, masih dirasa terbatas untuk mencetak objek ideal yang inginkan para desainer, seperti kerapatan, kekuatannya, atau kelembutannya.

Sampai saat ini ada kendala pada hasil cetak printer 3D yaitu apabila mencetak obyek yang memiliki bagian yang menjorok / miring (overhanging part). Biasanya filamen yang tercetak akan timbul dan cenderung mendistorsi hasil cetak. Solusi untuk kasus ini biasanya adalah memberikan tambahan "support" yaitu menyediakan struktur dukungan sementara selama pencetakan yang nantinya dapat dihilangkan, dengan cara memotong struktur dukungan tersebut dari objek inti. Ini memakan waktu dan cukup beresiko rusak saat membersihkan karena kesulitan menjangkau bagian sulit atau tidak mungkin dicapai.  Solusi lain ada bahan pendukung untuk support yang bisa larut dalam air (water soluble), tetapi ini cenderung merepotkan dan cepat menyerap udara sehingga rendernya menjadi gagal.


Gambar diatas ini adalah salah satu hasil demo cetak dari produk polymaker, yaitu polysupport (untuk filamen support / pendukung). Jadi jelas bahwa filamen yang canggih sangat dibutuhkan untuk solusi permasalahan diatas, dan juga kemudahan untuk mengupas bahan support / pendukung.

“With PolySupport, what you can finally do is just click a button and print, You know you will get results, and you don’t need to tweak models. It also just simply makes a lot of things that were unprintable now printable.” – Xiaofan Lou, CEO Polymaker.

Polymaker sekarang memiliki 48 karyawan dan beroperasi di AS, Eropa, dan China. Awal tahun 2017 ini perusahaan menerima $ 3M dari pendanaan seri A dari Legend Star, VC yang merupakan perusahaan induk dari Lenovo. Visi Luo adalah dengan filamen yang lebih baik, maka Printer tidak harus di-upgrade untuk dapat solusi bagi masalahan dalam printer 3D.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar